KUALA LUMPUR | BURKAS.ID – SENIN – Beban anggaran yang makin berat memaksa Pemerintah Malaysia mengurangi subsidi bahan bakar, khususnya solar. Kebijakan itu diterapkan mulai Senin (10/6/2024). Pencabutan subsidi itu membuat harga solar menanjak lebih dari 50 persen, dari 2,15 ringgit (Rp 7.420), menjadi 3,35 ringgit (Rp 11.561) per liter. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dikutip dari kantor berita Bernama mengatakan, pencabutan subsidi untuk solar terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan negara. Tindakan itu, kata Anwar, harus diambil pemerintah meski harus diakui tidak populer.
“Sebenarnya, semua perdana menteri sebelumnya sudah menyepakati target subsidi tersebut. Akan tetapi, tidak ada kemauan politik untuk melaksanakannya karena risiko yang ada. Namun, untuk menyelamatkan negara, kami tidak punya pilihan lain,” kata Anwar yang juga Menteri Keuangan.
Datuk Seri Amir, Menteri Keuangan II Malaysia saat mengumumkan kenaikan harga solar mengatakan, harga solar saat ini sesuai dengan mekanisme penetapan harga. Basisnya adalah harga rata-rata harian sepanjang Mei 2024 lalu. Meski ada kenaikan, menurut Amir, harga solar di Malaysia adalah harga terendah ke dua setelah Brunei. Di Brunei, harga solar adalah 1,09 ringgit atau Rp 3.762 per liter.
Di Singapura, harga solar, menurut Amir, adalah 8,79 ringgit per liter atau sekitar Rp 30.352. Di sejumlah negara ASEAN lainnya, menurut catatan Amir, harga solar di stasiun pengisian bahan bakar umum sudah lebih dari 4 ringgit atau Rp 13.812 per liter. Di Indonesia, harga solar jenis Dex Lite adalah Rp 14.550 per liter. Sedangkan harga Pertamina Dex adalah Rp 15.100 per liter. Dua harga tersebut adalah harga jual di Pulau Jawa.
Keputusan menaikkan harga solar ini hanya akan berlaku di wilayah Semenanjung Malaysia. Wilayah Sabah dan Serawak, menurut Amir, tidak akan terdampak perubahan kebijakan ini. Dia juga menyebut harga akan ditinjau setiap pekan agar selaras dengan harga minyak di pasaran.
Amir menyebut, harga solar nonsubsidi tidak berlaku untuk nelayan, armada angkutan umum (termasuk bus sekolah), taksi dan ambulans. Untuk kelompok petani dan nelayan, solar akan dijual dengan harga 1,65 ringgit per liter dan untuk angkutan umum darat sebesar 2,15 ringgit per liter.
Untuk mengatasi dampak kenaikan harga, pemerintah memberikan bantuan tunai kepada warga yang memenuhi syarat. Bantuan yang sama akan juga akan diberikan pada petani skala kecil.
*Beban Anggaran dan Penghematan*
Selama ini pemerintah Malaysia mensubsidi beberapa jenis kebutuhan pokok warga, seperti bahan bakar, minyak goreng, hingga beras serta sejumlah komoditas lainnya. Akan tetapi kenaikan harga telah menyebabkan beban besar pada anggaran pemerintah.
Amir mengatakan setiap tahun – dalam 10 tahun terakhir – Malaysia mengeluarkan setidaknya 1,4 miliar ringgit atau sekitar 300 juta dollar Amerika Serikat untuk subsidi solar. Akan tetapi, tahun lalu, lonjakan harga, membuat angka subsidi solar membengkak menjadi 10 kali lipat menjadi 14,3 miliar ringgit atau sekitar 3 miliar dollar AS.
Pencabutan subsidi solar menurut Amir membantu pemerintah untuk mengurangi defisit fiskal sebesar empat miliar ringgit atau sekitar 850 juta dollar setiap tahunnya.
Selain membantu mengurangi beban anggaran pemerintah, pencabutan subsidi solar menurut Amir juga mengurangi potensi penyelundupan solar ke luar Malaysia. Disparitas harga di dalam negeri dan di luar, menurut pandangan pemerintah, menjadi sebab maraknya penyelundupan solar produksi Malaysia ke luar negeri.
“Setiap tahun kita mengalami kerugian yang sangat besar dan hal ini dapat menghambat kesejahteraan yang layak kita dapatkan. Ini adalah keputusan pemerintah untuk memperkuat posisi keuangan negara dalam jangka panjang,” ujarnya.
Amir mengatakan, Malaysia tidak boleh kehilangan miliaran ringgit akibat penyelundupan solar ke luar. Dana yang ada lebih baik digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan membangun negara,” kata Amir.
*Dampak Susulan*
Seorang pengusaha peternakan di Penang, T Prem Kumar, mempertanyakan keputusan pemerintah yang hanya mencabut subsidi solar. Dia mengatakan, warga banyak beralih menggunakan solar dibanding bensin karena harganya lebih murah. Kini, dengan pencabutan subsidi terhadap solar, dia khawatir kebijakan itu akan mendorong kenaikan harga komoditas lainnya.
Dia mengatakan, jika kekhawatiran utama pemerintah adalah untuk mengurangi penyelundupan, yang perlu diperketat adalah pengawasan di perbatasan atau jalur yang diduga sering digunakan para penyelundup.
“Jika penyelundupan menjadi perhatian, maka pengawasan perbatasan harus diperketat. Harus ada tindakan tambahan untuk membuat segalanya menjadi mudah. Langkah ini saat ini membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban,” katanya dikutip dari Malay Mail.
YS Tan, warga Petaling Jaya menyebut dirinya lebih khawatir dengan dampak susulan pascapencabutan subsidi, termasuk harga-harga kebutuhan pokok. “Saya khawatir kenaikan harga solar akan memengaruhi biaya hidup secara umum. Peningkatan ini merupakan lompatan besar. Pemerintah tidak memberikan waktu bagi pengguna untuk melakukan penyesuaian secara bertahap,” kata Tan.
Seorang kontraktor, Ahmad Sofwan, mengatakan, pengusaha kecil seperti dirinya menghadapi tekanan yang lebih besar di tengah situasi ekonomi yang berat. Dia mengatakan, keputusan pemerintah mencabut subsidi solar membuatnya menghadapi pilihan sulit antara menaikkan biaya layanan atau menerima keuntungan lebih rendah. Potensi pengusaha untuk mengurangi biaya operasional, termasuk mengurangi jumlah karyawan, menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari. Apalagi jika tidak ada jalan lain untuk dipilih. (AP/AFP)
Editor: BONIFASIUS JOSIE SUSILO HARDIANTO
Editor: CHRISTOPERUS WAHYU HARYO PRIYO
No comments yet.