Breaking News
Categories
  • aceh
  • AMBON
  • Artikel
  • Bali
  • Banten
  • Belitung
  • Bengkalis
  • Bisnis
  • bogor
  • Budaya
  • Bukittinggi
  • Daerah
  • Deli Serdang
  • Dumai
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Hukum & Kriminal
  • Inhil
  • Inhu
  • Internasional
  • Jakarta
  • Jambi
  • Jawa Barat
  • Jogyakarta
  • Jurnalis
  • Kabupaten Agam
  • Kabupaten Boalemo
  • kalimantan barat
  • kalimantan utara
  • Kampar
  • Kejagung Ri
  • Kejati
  • Kemenbud
  • Kesehatan
  • KPK
  • KPU
  • Kuansing
  • Kumham
  • Lampung
  • Lsm
  • Mahkamah Agung
  • Maluku
  • Manokwari
  • Medan
  • Menkum Ham
  • Meranti
  • Nasional
  • OJK
  • Olahraga
  • Opini
  • Ormas
  • Padang
  • Padang Pariaman
  • Palembang
  • Palu
  • Pandeglang
  • Pangkal Pinang
  • papua
  • Papua Barat
  • papua tengah
  • Partai
  • Pasaman
  • Payakumbuh
  • Pekanbaru
  • Pelalawan
  • Pemerintah
  • Pendidikan
  • Pengadilan
  • Peristiwa
  • PHR
  • Polda Riau
  • Politik
  • Polres Pelalawan
  • Polri
  • Riau
  • Rohil
  • Rohul
  • Semarang
  • Siak
  • Sibolga
  • Singkawang
  • Sleman
  • Sosial
  • Sulteng
  • Sumatra Barat
  • Sumut
  • TNI
  • TNI -Polri
  • TNI-POLRI
  • Bitcoin Koreksi ke Bawah US$90.000, INDODAX: Tensi Geopolitik Global Picu Aksi Jual

    • Jan 22 2026 • 83 Dilihat

    Jakarta,,BURKAS.ID-21 Januari 2026 — Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis US$90.000 pada perdagangan Rabu (21/1), seiring meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.

     

    Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$87.000 sebelum bergerak fluktuatif. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global. Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai.

     

    Menanggapi kondisi ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global. “Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual.” ujar Antony.

     

    Menurut Antony, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto. “Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga.” lanjutnya.

     

    Ia menambahkan bahwa sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam sering kali beriringan dengan guncangan makro, terutama ketika Bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional. “Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” kata Antony.

     

    Meski demikian, Antony menekankan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek. “Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat,” tutup Antony.

     

    Antony menekankan bahwa volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.

     

    ***

    Share to

    Related News

    Konferensi Pers Polres Kampar: 104 Perka...

    by • Okt 29 2026

    KAMPAR – Kepolisian Resor (Polres) Kampar menggelar konferensi pers penanganan perkara menonjol Sa...

    Di Tengah Kesibukan Tugas, Kapolres Kamp...

    by • Okt 29 2026

    Kampar, — Kapolres Kampar AKBP Boby Putra Ramadhan Sebayang, S.I.K., M.H., berhasil menyelesaikan ...

    Pengurus LAK Kampar Periode 2026 2031 Se...

    by • Okt 29 2026

    Pekanbaru, Burkas.Id-Pengurus Lembaga Adat Kampar (LAK) Kabupatten Kampar periode 2026 2031 akan dil...

    Dadan Maryana Pembina Lembakum :Bantah M...

    by • Okt 23 2026

    Pekanbaru,Burkas.Id,Ratusan kepala keluarga warga pemilik lahan (petani) kebun kelapa sawit di Desa ...

    Satgas TMMD ke-130 Percepat Pembangunan ...

    by • Okt 21 2026

    LABUSEL || Satgas TMMD ke-130 Kodim 0209/Labuhanbatu melanjutkan pengerjaan rumah tidak layak huni (...

    Subuh Keliling di Masjid Baitul Huda, Ka...

    by • Okt 17 2026

    KAMPAR KIRI — Polsek Kampar Kiri terus memperkuat kedekatan dengan masyarakat melalui kegiatan kea...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top Back to top